Laman

Kamis, 20 November 2014

Behind The Journey - Edisi Mbolang Jawa Timuran

Tempat-tempat istimewa adalah tempat-tempat menyimpan cerita yang membekas di jiwa. Dan perjalanan istimewa bukan bergantung pada berapa kilo jaraknya, tetapi sejauh apa jiwa bisa berkelana, hingga menemukan tempat yang membuatnya bahagia. Bahkan bisa jadi, kawan istimewa adalah mereka yang setia bersama dalam perjalanan-perjalanan kita. Oleh karena itu, aku sangat menyukainya. Bepergian, berada dalam perjalanan, safar, bagiku adalah saat-saat istimewa.

Safar tak hanya membawaku ke tempat-tempat luar biasa yang membuatku terpana. Lebih dari itu safar menghadirkan tantangan yang menghadapkanku pada keputusan hitam putih, sehingga aku tahu seperti apa diriku sejatinya. Safar juga memiliki ruhnya sendiri, ia tumbuh dalam kemampuan untuk menghitung setiap resiko, memikirkan tiga langkah ke depan, bahkan sebelum langkah pertama diambil. Safar menggelar sekian banyak pilihan yang mensyaratkan toleransi dan daya tahan. Safar itu mendewasakan.

Maka takzimku kepada Baginda Nabi yang mengijinkan bagi siapa yang sedang dalam perjalanan, sedang dalam kondisi safar, dapat menggabung dan meringkas shalatnya. Karena beliau tahu, safar bukanlah hal yang gampang. Bahkan Allah pun memberikan keringanan untuk tidak berpuasa Ramadhan.

Oh iya, satu lagi rahasia safar yang sangat kusukai. Amirul Mukminin ‘Umar bin Khaththab ra pernah menyebutkan tiga hal sebagai bukti ikatan sebuah perkenalan. “Demi Allah”, kata ‘Umar, “kau sama sekali tidak mengenalnya!” jika kau belum pernah melalui satu di antara ketiganya. Apakah itu? Safar, bermalam, dan berhutang. Yap! Jika ingin mengenali diri dan akhlaq seseorang, maka safar adalah salah satu cara paling bisa diandalkan.

Lebih khusus tentang safar, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin berkata, “Diistilahkan safran [سَفْرًا l] karena diambil dari makna al-isfar [الْإِسْفَارُ ] yaitu: keluar dan terang, nyata. Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan [أَسْفَرَ الصُّبْحُ] yaitu bersinar atau bercahaya. Secara makna disebut  assafaru–safran karena “membuka perihal akhlak seseorang.” Maksudnya, menjadikan jelas dan nyata keadaannya. Berapa banyak orang yang belum terkuak jati dirinya, bisa terungkap setelah melakukan safar/bepergian bersamanya. Ketika dalam safar itulah engkau mengetahui akhlak, perangai dan wataknya.”

Baiklah.. cukup membahas safar. Kali ini aku akan bercerita tentang safar yang baru saja kulalui. Berawal dari kepungan tugas dan amanah di Jogja, tiba-tiba ingin merasakan rehat sebentar saja. Bi idznillah, do’a itu terjawab. Adek yang mondok Gontor menelpon, “Mbak, bisa ke pondok? Aku perlu ini ini ini..”. That’s it! Mbolang Jawa Timur, Rek.. Dan rencana perjalanan pun dimulai.. Here the proof:

Tips nya dulu ya…

Pertama: sebisa mungkin sebelum pergi rampungkan tugas, delegasikan amanah, dan kosongkan waktu agar ketika pergi ndak kepikiran ini itu.

Kedua: hunting tiket yang sesuai dengan budget. Biasanya jika ke Jawa Timur (karena tujuannya adalah Kediri via Jombang), Sancaka atau Argo Wilis yang jadi andalan. Tapi karena perjalanan kali ini lain dari yang lain, paket ekonimis pun jadi: berangkat Pasundan jurusan Lempuyangan-Jombang harganya Rp 55.000,-, pulang pakai Kahuripan jurusan Kediri-Lempuyangan cuma Rp 50.000,-

Ketiga: cari info dan rencanakan trip yang sesuai dengan waktu dan (sekali lagi) anggaran ^O^

Keempat: bersiaplah dan nikmati kejutan-kejutan selama perjalanan, hehehe

Kamis, 13 November 2014

Hujaaaaan. Do’anya: Allahumma shayyiban nafi’an, Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat.. Tenang saja, hujan masih hujan air kok. Tapi kalau kereta berangkat 14:16 dan jam 13:30 barengannya belum datang, itu yang rada bikin ndak tenang. Bismillah, keep calm and stay cool.. Wong mau diburu-buru atau ndak tetap saja waktunya sudah mepet. Akhirnya yang ditunggu datang juga! :D Karena kehujanan dan masih lengkap dengan pakaian kantor, jadilah harus menunggu beliau ganti baju. Ndak jelas berangkat jam berapa, Jogja muacet pol, ditambah jalan yang licin karena hujan, di tiket parkir stasiun tertera 14:13:33. Dihujani dag dig dug karena dari kejauhan terdengar PPKA, “Persiapan diberangkatkan dari jalur 2, KA Pasundan tepat pada waktunya”. Hwaaa, lariiiiiiiiiiiiiiii >_<
               
Alhamdulillah, begitu sampai pintu masuk Stasiun Lempuyangan ada security di dalam peron yang melihat kami, “Tahan, satu”. Sambil memeriksa kartu identitas petugas boarding pass berkomentar, “Kok bisa hampir ketinggalan ta, Mbak?” Injury time, gumam kami. Peluit dibunyikan dan kereta berjalan begitu kami naik ke gerbong. Yah, luar biasa! Jadi harus mensyukuri nikmatnya berjuang sampai detik-detik terakhir, dan harus siap dengan resiko serta rencana selanjutnya: kalau ketinggalan kereta terus mau apa..

Menyusuri rangkaian kereta, kami naik di gerbong 1 padahal tempat duduk kami di gerbong 6, lumayan.. Begitu waktunya cek tiket kereta, Mas Yogi –petugas yang kami tahu dari name tag di jasnya- berkata, “Ini yang mau ketinggalan tadi ya?” Jawabku, “Hehe, iya.. kok hafal, Mas?”. “Apal, wong keri dewe, wis arep tak semprit mau.” Kejadian di Stasiun Lempuyangan itu sangat berkesan, bahkan sampai kami turun di Stasiun Jombang. “Hati-hati..”, kata Mas Yogi. Hehehe, matur nuwun, Mas..
Sampai di Jombang, kami shalat dulu, maghrib-isya’ dijamak. Setelah itu barulah kami mengawali dolan di Alun-alun Jombang, yang notabene cuma di depan stasiun. Oh iya, tata kota Jombang ini tersentral. Alun-alun, Masjid Agung, dan Pendopo Kabupaten berada dalam satu komplek, jadi aji mumpung. Ssst, karena belum sempat buka puasa di kereta, jadilah kami berburu makan malam sekalian. Ketemu sama Nasi Pecel Tumpang. Makanan khas yang begitu melihat porsinya, “Lha, kok akeh banget?” tapi ternyata habis juga, hahaha. Murah meriah, nasi pecel lengkap dengan kerupuk dan minumnya, berdua Rp 15.000,-. Molas ewu arek loro.. Alhamdulillah..




Puas mbolang di Jombang, kami meneruskan perjalanan ke pondok. Gontor Putri 5 Bobosan, Kemiri, Kandangan, Kediri. Biasanya dari stasiun bisa naik Bus Puspa Indah jurusan Jombang-Malang, per orang Rp 7.000,- sampai Kandangan. Bus ini beroperasi pertama jam 3 pagi dan terakhir jam 19.30 dari Jombang. Dari Kandangan naik ojeg ke pondok, harga standar Rp 10.000,-. Tapi karena kemarin sudah jam 9 malam, kami naik bentor, Rp 50.000,- sampai pondok. Mas Cokro nama pengemudinya, asli Jombang. Bagi yang mau mampir ziarah, jalur Jombang-Kandangan ini lewat persis di depan Tebu Ireng, pondok pesantren sekaligus komplek makam KH. Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim, dan KH. Abdurrahman Wahid. Sampai Gontor sudah sekitar jam 10, kami istirahat di Bapenta. Karena Bapenta penuh, tamu yang jenguk santriwati banyak, tengah malam baru kami bisa beranjak tidur.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal, termasuk first experience bagi yang baru pertama dolan ke Jawa Timur.. J

Jumat, 14 November 2014

Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami kembali. Jumat Mubarak. Alhamdulillah ndak ketinggalan adzan shubuh dan tetap bisa shalat berjamaah. Alhamdulillah juga kami dipertemukan dengan orang-orang baik. Sekeluarga dari Semarang yang memberikan air minumnya, ibu-ibu dari Bojonegoro yang semalam menawarkan kasurnya dan membelikan teh panas paginya, juga bapak-bapak yang menunggui putrinya yang baru sakit. Berasa, “Ini lho, keluarga baru..”. Sarapan di DLP (Depot Laa Tansa Putri), mumpung adek libur, kemudian kami menghabiskan waktu di pondok saja sampai waktunya shalat Jumat.

Ba’da shalat Jumat siap-siap mbolang lagi. Tujuannya Kediri Kota. Setelah kepo ke dua orang teman yang asli Jombang dan asli Kediri, kami direkomendasikan untuk sewa kendaraan saja. Setelah tanya-tanya di sekitar pondok, kami bisa meminjam motor milik tukang ojeg yang baik hati tapi rada ndak jelas, hehehe. Mengganti Rp 50.000,- ke Pak Sukamto dan Mas Andi, kami bawa motornya ke Kediri Kota. Menembus hujan, bingung cari mantol, tapi sudahlah kepalang tanggung niat mbolang. Maju terus pantang mundur. Bahkan sampai Kampung Inggris di Pare kami belum ketemu toko yang menjual jas hujan. Baru sebelum perbatasan Pare-Gurah ada toko yang sedia jas hujan. Jalur dari pondok ke Kampung Inggris bisa dibilang mudah, apalagi dari Pare ke Kediri, plang penunjuk arah gampang dijumpai. Jadi jangan khawatir kesasar, apalagi kalau ponselnya support untuk GPS. Kalaupun ndak, ada juga GPS yang tak kalah akurat, Gunakan Penduduk Setempat, hehehe

Dari Kampung Inggris, kami menuju ke Simpang Lima Gumul (SLG), ikonnya Kediri. Monumen yang mirip sama L’Arc De Triomphe, Paris. Berasa di Eropa kalau di sana. Masuk kawasannya gratis, masuk monumennya yang bayar, tapi juga ndak mahal kok, ndak sampai lima ribu. Monumen SLG hanya dibuka pada hari libur. Karena kami ke sana hari Jumat, jadi cuma foto-foto di halaman aja. Tapi tetep kereeenn, apalagi burung-burungnya, bikin atmosfer Eropa makin kentara. Hmmm J


Adzan ashr kami pindah haluan ke Masjid Agung Kediri. Jaraknya lumayan dari SLG. Harap dijadikan periksa Saudara-saudara, kami berangkat dari pondok belum makan siang, jadilah (lagi-lagi) kami kelaparan, hehehe. Muter-muter, cari rawon ndak nemu yang pas. Ada bebek goreng H. Slamet, gulai kepala ikan Mas Agus, Ayam Penyet Suroboyo sih sebenernya, tapi kan di Jogja juga ada. Walhasil kami sampai di Jalan Erlangga, rada kesasar sebenernya. Harusnya belok satu lampu merah lagi setelah Stadion Brawijaya. Ndakpapa.. Ada dua tempat makan yang jejeran, Ayam Taliwang sama Batagor Siomay Bakso. Kami pilih warung makan Mr. Jabrik, pesan siomay, batagor, jus sirsat, dan jus alpukat. Harganya standar, berdua habis Rp 35.000,- tapi rasanya maknyus (y)

Ada yang menarik waktu kami makan. Awalnya kami cuma bayar 32ribu, karena tagihannya emang segitu. Tapi begitu selesai justru kami yang mikir, “Kayaknya yang harus kami bayar ndak segitu deh, kurang.. Soalnya di daftar menu jus alpukat itu 9ribu, kalau kami bayar 32, artinya jus alpukat cuma 6ribu..”. Akhirnya kami kroscek lagi ke kasir, dan ternyata bener, mbak pelayannya salah tulis. Nah, kalau terus ndak kebayar, kasihan mbaknya harus tombok kan? Kasihan kami juga kalau ada yang kami makan statusnya samar-samar.. Alhamdulillah, masih dijaga sama Allah J

Berbekal petunjuk dari si mbak di warung makan kami melanjutkan perjalanan. Sampailah kami di Masjid Agung Kediri. Masjidnya satu kawasan dengan alun-alun. Seberangan jalan juga dengan beberapa mall. Setelah shalat (setelah foto-foto juga tentunya) kami ke alun-alun lewat jembatan penyeberangan, sampai jelang adzan maghrib. Ba’da shalat maghrib kami berencana ke Dhoho, Malioboronya Kediri. Tetapi karena hujan, niat itu kami urungkan. Balik kanan saja, menikmati kembali SLG di malam hari. Bagus kalau malem, tapi kami salah tempat parkir. Jadi harus nyebrang jalan yang rame banget. Padahal siangnya dari parkiran masuk lewat terowongan bawah tanah.









Puas di SLG, kami kembali ke pondok. Mampir Kampung Inggris buat dinner, without candle light, hehehe. Ndak tahu kenapa, makanan di Pare itu murah-murah buat hitungan makanan di kawasan wisata. Nasi+ayam goreng Singgahan+lalap+sambel 8ribu doang, jahe panas 2.500 aja, sambel terong 2ribu perak. Pare sendiri sejatinya hanya salah satu kecamatan yang ada di Kediri, tapi saking majunya, sampai punya alun-alun dan terminal sendiri. Joss pokoknya. Begitu sudah kenyang, siap-siap deh, go back.. Sudah disms adek, jaros hari Jumat lebih awal setengah jam dari biasanya. Berdo’a bisa sampai pondok tepat pada waktunya. 20:55, lima menit sebelum jaros. Sebelum masuk ke pondok, kembalikan motor dulu ke Pak Kamto dan Mas Andi, sambil tanya angkutan kalau mau ke Kediri besok pagi. “Besok nek mau berangkat ngabari aja, tak anter” Wuih, sip, Mas! :D

Begitu masuk Bapenta, berasa famous banget.. Diserbu komentar para ibu-ibu PKK, “Si eneng jalan-jalan nggak ngajak-ngajak..”, “Ini cewek Jogja habis main kemana aja baru pulang?”, “Yang habis dari Kediri oleh-olehnya mana ini?” Dan senyumku sudah menjawab semuanya :D

Sabtu, 15 November 2014

Hari terakhir. Bisa bangun shalat malam saat sebelumnya kelelahan dan kehujanan itu rasanya awesome J selepas rangkaian ibadah pagi, mandi, kemas-kemas dimulai. Berencana keluar dari pondok mruput, karena tujuan kami agak jauh, Air Terjun Dolo di Kawasan Wisata Besuki. Konon katanya Dolo adalah air terjun paling indah di antara yang ada di Besuki. Katanya juga transpotnya tidak begitu sulit. Tiket masuknya juga murah meriah, 3 ribu rupiah! Maka bersemangat sekali kami ke sana.

Namun tidak tega karena kami membuat adek menunggu malamnya,  kami tebus dengan kembali sarapan bersama. Baru bersamaan adek masuk sekolah, kami pamit pulang. Hohoho, ternyata kami sudah ditunggu Mas Andi dan kawan ojegnya, weitz siap siaga nek iki..

Motoran dari pondok sampai Terminal Pare, 15ribu. Oh ya, kami lewat Candi Surowono juga lho. Jangan bayangkan candi di Kediri sama dengan Prambanan apalagi Borobudur..  Hanya areal kecil.
               
Terminal Pare. Ponsel kami menunjukkan 07:01. Oke, kita hitung, berapa waktu yang diperlukan sampai Kediri, kemudian estimasi waktu dari Kediri-Besuki. Kira-kira juga dari Besuki-Stasiun Kediri (plus cari oleh-oleh) gimana waktunya. Tekad kami, don’t be late! Ndak lucu kalau harus lari-lari karena injury time lagi, hehehe. Hampir satu jam kami menanti Bus Puspa Indah Malang-Kediri. Dua armada yang datang pertama tujuan Malang semua. Bus ketiga, masih dengan teriakan, “Malang, Malang, Malang”, membuat kami tak beranjak. Baru setelah bus itu pergi, ada bapak-bapak menanyai, “Sampean Kediri?”. Kami mengangguk. “Lha kuwi gek ntas lewat..”. Eh? Saling berpandanganlah kami. Satu jam menanti, terus kepancal. Tapi ya sudahlah, legawa saja. Ternyata Allah ganti kemudian, tak sampai lima menit ada bus di belakangnya, busnya juga jauh lebih nyaman. Kalau sebelumnya tadi bus kota standar ala Kopaja atau Aspada, nah, yang kami tumpangi bus AC tarif biasa. Alhamdulillah.. Pare-Kediri ongkosnya 6ribu.

Terminal Tamanan Kediri. Sesuai petunjuk kondektur Puspa Indah, kami harus menyambung angkot untuk sampai ke Besuki, jurusan Selomangleng katanya. Kami berjalan ke tempat di mana angkotnya ngetem. Di persimpangan kami ditawari bentor, 20ribu sampai Selomangleng. Kami menolak. Baru ketika kami diberitahu bapak-bapak dan ibu-ibu di sebuah warung kalau Besuki itu masih 40 km dari Tamanan, kami berpikir ulang. Mau ke mana ini? Waktu baru menunjukkan jam 9, sementara kereta kami masih jam 2 siang. Tapi kalau ke Besuki jelas tak memungkinkan. Atas arahan pemilik warung, kami pindah haluan ke Selomangleng. Naik bentor. Bentor yang berada di dekat warung mematok harga 35ribu, itupun dengan sikap yang kurang bersahabat. “Mbaleni sing pisanan wau cobi..”. Walhasil, bentor Pak Sukardi yang mengantarkan kami ke Selomangleng, sekaligus nanti menjemput dan mengantar kami sampai ke stasiun.

Entah karena Kediri termasuk kabupaten yang kaya, entah model pengelolaan wisatanya semacam apa, yang jelas retribusi kawasan wisata di Kediri itu keterlaluan murahnya. Kawasan Besuki cuma Rp 3.000,-. Kawasan Selomangleng Rp 2.000,- untuk dewasa, Rp 1.000,- untuk anak-anak. Masuk museum Airlangga Rp 1.000,- untuk dewasa, Rp 500,- untuk anak-anak. Murah sekali kan?





Pagi jelang siang itu kami habiskan di Selomangleng. Baru mulai kami menjelajahi pertapaan Dewi Kilisuci itu, ada sebuah pesan masuk, dari Pak Sukardi. “Selamat bersantai ria”, katanya. Batinku, betul-betul pengemudi sejati beliau ini. Top. Pukul 11 kami menyudahi jalan-jalan kami. Menuju ke TPR mengambil titipan tas ransel, kemudian meluncur berburu oleh-oleh. Pak Sukardi menunjukkan di mana kami bisa mencari oleh-oleh. Kami belanja, Pak Sukardi setia di bentornya. Kemudian kami percaya, masih banyak orang baik di dunia ini. Dan Alhamdulillah, sejak awal perjalanan ini kami dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Empat puluh ribu untuk transpot Tamanan-Selomangleng-pusat tahu takwa-stasiun dengan servis yang sangat memuaskan bukanlah harga yang mahal.

Btw, jika waktu datang kami melewati Tebu Ireng, pulangnya kami juga melewati pesantren yang tak kalah kondang: Lirboyo.

Stasiun Kediri, tepat saat dhuhur. InsyaAllah shalat terakhir dalam safar kami di Jawa Timur. Masih tergoda mencicipi rawon asli Jawa Timur, sebelum shalat kami singgah di warung makan dekat stasiun yang menampilkan menu rawon di depan warung makannya. Sayang kami belum beruntung, rawonnya habis. Tak apalah, seadanya. “Wong maem kuwi”, kata Ibu, “lawuhe ngelih..” Ah, iya.. kalau laper, maem apa saja pasti enak :D

Menikmati penuh sesak Stasiun Kediri dengan segala rupa dan aktivitas orang-orangnya. Sembari mengulang ingatan perjalanan tiga hari ini. Sungguh ini tayangan nyata. Babak kehidupan yang diputar real time di depan mata. Maka amat sayang jika kita tak dapat mengambil pelajaran darinya. Setiap yang hadir, yang kita lewati, pasti bukan kebetulan belaka. Atas ijin Allah, semua bisa menjadikan kita bijaksana jika kita tepat menyikapinya.

Terima kasih.. Safar ini telah mengajarkan banyak hal.. Safar ini telah mendidikkan akhlak dan menanamkan kedewasaan.. Safar ini membahagiakan.. :')

14:05. Lempuyangan, kami datang.. Yogyakarta, kami pulang..

“Barangsiapa yang ketika bersafar mengalami kesusahan dan keletihan ia tetap berakhlak yang baik, maka ketika tidak bersafar ia akan beraklak lebih baik lagi. Sehingga dikatakan, jika seseorang dipuji muamalahnya ketika tidak bersafar dan dipuji muamalahnya oleh para teman safarnya, maka janganlah engkau meragukan kebaikannya.” (Ibnu Qudamah Al-Maqdisi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar