Laman

Rabu, 29 Februari 2012

(Bukan) Negeri Kemarin Sore

Aku tak henti berdecak ketika menapak di Brussel kali pertama. Di jantung kota ini berdiri kokoh kantor Uni Eropa yang berwibawa. Sebuah lambang kegagahan bangsa-bangsa Eropa. Arsitektur dasarnya mirip kuburan saudagar Tionghoa yang kaya raya. Tinggi, melengkung ke dalam, seperti tubuh yang ingin memeluk. Maksud desain itu bukan soal estetika semata. Lengkung yang merengkuh 27 bendera negara anggotanya di taman berlantai granit itu adalah rancangan untuk berlindung dari guncangan bom.

Kamis, 23 Februari 2012

Yang Manakah Kita?

Kita ini seperti sapu. Kok bisa? Iya. Sapu itu, ketika ia hanya berdiri sendiri, ia takkan bisa apa-apa. Ia tak mampu membersihkan kotoran. Tapi coba kita lihat, ketika bakal sapu itu sudah menjadi satu, sudah diikat sedemikian rupa, kotoran apa yang tak mampu dibersihkannya? Bahkan kalau (kepepetnya) butuh gebug maling, sapu akan sangat berguna. Hehe, iya kan? Sekarang coba kita bayangkan jika kita hanya sendirian. Apa yang bisa kita lakukan? Bukan tidak mungkin, tapi akan sangat berat. Sekali lagi, sangat berat.

Selasa, 27 Desember 2011

Teriakan Syifa

"Arung jeram itu apa sih, Bah?"

“Oh, itu berarti kita naik perahu karet, trus menyusuri sungai, Nak...” jawab suamiku.

“Aku pakai helm juga?” ia bertanya dengan polosnya. Melihat abahnya sedang memakai helm.

“Iya, Syifa. Coba pakai helmnya sendiri ya, Anak pintar…” kataku sambil tersenyum.

“Kayak abah waktu naik jembatan goyang dong, Mi?”

Sekarang giliran suamiku yang senyum-senyum. Kami memang beberapa kali mengajak anak-anak ke wahana high risk. Sekedar melihat abah dan uminya beraktivitas sebagai outbounders.

Senin, 26 Desember 2011

Ara Kangen!

Sebelum Ara cerita, kenalan dulu ya. Nama Ara tuh benernya Zahra. Kata abah, waktu Ara baru lahir dulu warna Ara merah jambu seperti warna bunga mawar ummi. Kata abah, Ara cantik deh... jadinya Ara dikasih nama Zahra yang artinya bunga. Ara pingin sampe nanti Ara besar warna Ara tetep merah jambu, biar Ara jadi cantik terus.

Selasa, 25 Oktober 2011

Ayo Belajar, Nak...*


Ayo belajar dari gunung, Nak...

tampak tenang, kalem, namun terus bergelora
tampak diam, sederhana, namun luas wawasannya
tampak tidak melakukan apa-apa, namun konsisten bekerja
kokoh menjulang tinggi, sekaligus dalam menghunjam bumi

Ayo belajar dari gunung, Sayang...

sekali waktu dia mampu membuat kejutan yang mengguncang
mengingatkan, bahwa manusia masih punya Tuhan
menyadarkan, bahwa teman setia mereka adalah kesabaran
dan menginspirasi, bahwa dalam kebaikan mereka tidak sendirian

Ayo belajar dari gunung, Shalih/Shalihah...

jutaan mineral dan abu yang menyuburkan adalah cerita gunung
bahwa bersama setiap kesulitan akan ada kemudahan
seperti ayat yang tak bosan kau hafal bukan?
fa inna ma'al 'usri yusran, inna ma'al 'usri yusran

Ayo belajar dari gunung, Mujahid/Mujahidah...

setelah selesai dengan satu urusan
gunung masih tegak menjulang
bersegera memulai kembali urusan-urusan besar

Ayo sama-sama belajar dari gunung, Nak...

Gunung melakukan semua pekerjaan besarnya dengan rendah hati...
Ia rendah hati dalam ketinggiannya, sekaligus tinggi dalam kerendahan hatinya...


*untuk jundi-jundiku yang pemberani,
setahun paska erupsi Merapi

Kamis, 06 Oktober 2011

Senja Dalam Kereta


Aku bertemu dengannya senja tadi. Saat langit Kota Hujan merona berwarna jingga. Senja, biasanya adalah saat kepenatan berlabuh. Saat gelap merangkak ke jendela untuk menyejukkan mata. Dan tentu saja, saat harumnya sabun mandi dan minyak telon semerbak dari tubuh mungil santri-santriku.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Karena Cinta Harus Diupayakan


Ini jawabanku atas pertanyaanmu, saudariku..
Ukht, ada 2 pilihan untukmu:
1. Menikah dengan orang yang kau cintai
2. Mencintai orang yang menikah denganmu
Mana yang anti pilih?”

Kamis, 04 Agustus 2011

Episode

terangkai rintih mengalir tanpa buih
melantun tasbih dalam bait-bait lirih
walau luka dibawa berlari semakin perih

bila gema telah dikirim senja
pecahlah sunyi menjadi langkah kaki
dan derap-derap kecil menyunggi kitab abadi
terbentang seperti deras kali yang harus diselam-direnangi
jika ingin sampai ke tepi

tertatih memikul tandu-tandu
melafadz takbir di antara pohon-pohon bambu
walau malu-malu, aku tak pernah ragu (an)