Laman
Senin, 14 Mei 2012
Panen
Selasa, 08 Mei 2012
Dua Jenis Guru*
Jumat, 27 April 2012
Ningrat
Selasa, 17 April 2012
Memilih Sehat (Bagian 1)
Hidup adalah sekumpulan pilihan, begitu kata Patch Adams dalam bukunya Gesundheit! Bringing Good Health to You. “Dan kita,” lanjut beliau, ”adalah ekspresi dari pilihan jangka pendek dan jangka panjang yang kita buat.”
Sabtu, 07 April 2012
Sakit Itu Mahal

Dua nikmat yang sering manusia lupakan adalah kesehatan dan waktu luang. Kadang kita harus lebih dulu terbaring lemah untuk bisa paham bahwa sehat itu luar biasa. Kadang kita harus lebih dulu beraktivitas banyak sampai istirahat pun tak sempat untuk mengerti bahwa waktu tak boleh kita buang sia-sia.
Rabu, 29 Februari 2012
(Bukan) Negeri Kemarin Sore
Aku tak henti berdecak ketika menapak di Brussel kali pertama. Di jantung kota ini berdiri kokoh kantor Uni Eropa yang berwibawa. Sebuah lambang kegagahan bangsa-bangsa Eropa. Arsitektur dasarnya mirip kuburan saudagar Tionghoa yang kaya raya. Tinggi, melengkung ke dalam, seperti tubuh yang ingin memeluk. Maksud desain itu bukan soal estetika semata. Lengkung yang merengkuh 27 bendera negara anggotanya di taman berlantai granit itu adalah rancangan untuk berlindung dari guncangan bom.
Kamis, 23 Februari 2012
Yang Manakah Kita?

Kita ini seperti sapu. Kok bisa? Iya. Sapu itu, ketika ia hanya berdiri sendiri, ia takkan bisa apa-apa. Ia tak mampu membersihkan kotoran. Tapi coba kita lihat, ketika bakal sapu itu sudah menjadi satu, sudah diikat sedemikian rupa, kotoran apa yang tak mampu dibersihkannya? Bahkan kalau (kepepetnya) butuh gebug maling, sapu akan sangat berguna. Hehe, iya kan? Sekarang coba kita bayangkan jika kita hanya sendirian. Apa yang bisa kita lakukan? Bukan tidak mungkin, tapi akan sangat berat. Sekali lagi, sangat berat.
Selasa, 27 Desember 2011
Teriakan Syifa
“Oh, itu berarti kita naik perahu karet, trus menyusuri sungai, Nak...” jawab suamiku.
“Aku pakai helm juga?” ia bertanya dengan polosnya. Melihat abahnya sedang memakai helm.
“Iya, Syifa. Coba pakai helmnya sendiri ya, Anak pintar…” kataku sambil tersenyum.
“Kayak abah waktu naik jembatan goyang dong, Mi?”
Sekarang giliran suamiku yang senyum-senyum. Kami memang beberapa kali mengajak anak-anak ke wahana high risk. Sekedar melihat abah dan uminya beraktivitas sebagai outbounders.



