Laman

Senin, 14 Mei 2012

Panen



kawan, wajahmu nampak muram, ada apa gerangan?
aku baru panen belakangan

bagaimana bisa kau gundah gulana, sedang kau tengah panen raya?
harusnya begitu, tapi tidak begitu adanya

memang, apa yang kau tanam?
sebutir benih bernama NANTI

lantas, yang tumbuh dari benih itu?
pohon dengan tunas yang mengakar, batang yang menjulang, dan rimbun dedaunan bernama MUDAH-MUDAHAN

kau apakan pohon-pohonmu?
kusiram, kupupuk, dan kerap kugadang-gadang dengan ucapan MASIH ADA KESEMPATAN

lalu pohon itu berbuah?
ya, tentu. awalnya hanya kecil, lama-lama membesar. masam, lalu matang. satu, dua, sampai berpuluh, bahkan berratus buah ALASAN

kemudian itu?
ketika kucecap hanya ada rasa getir KEGAGALAN

dan itu yang kau tuai belakangan?
ya. saat menuaiya tak ada yang tertinggal selain bertumpuk PENYESALAN*** (an)

Selasa, 08 Mei 2012

Dua Jenis Guru*

Di Hari Pendidikan lalu, saya bertemu dua jenis guru. Guru pertama adalah guru kognitif, sedangkan guru kedua adalah guru kreatif. Guru kognitif sangat berpengetahuan. Mereka hafal segala macam rumus, banyak bicara, banyak memberi nasihat, sayangnya sedikit sekali mendengarkan. Sebaliknya, guru kreatif lebih banyak tersenyum, namun tangan dan badannya bergerak aktif. Setiap kali diajak bicara dia mulai dengan mendengarkan, dan saat menjelaskan sesuatu, dia selalu mencari alat peraga. Entah itu tutup pulpen, botol plastik air mineral, kertas lipat, lidi, atau apa saja. Lantaran jumlahnya hanya sedikit, guru kreatif jarang diberi kesempatan berbicara. Dia tenggelam di antara puluhan guru kognitif yang bicaranya selalu melebar ke mana-mana. Mungkin karena guru kognitif tahu banyak, sedangkan guru kreatif berbuatnya lebih banyak.

Jumat, 27 April 2012

Ningrat


Apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi juga. Badai penentangan atas apa yang kuputuskan benar-benar bertiup kencang. Tak jarang pula badai itu datang dari keluarga atau pihak-pihak yang selama ini sangat berkeinginan menjadikan aku sebagai menantu. Tapi, atas badai dan gelombang itu, aku tetap berdiri pada keputusanku. Aku mantapkan hati. Jodoh itu di tangan Tuhan, ikhtiar ke arah itu, akulah yang melakukan. Jika orang lain mau memberi masukan, itu hak mereka. Silahkan. Aku bisa menerima, bisa pula menolaknya.

Selasa, 17 April 2012

Memilih Sehat (Bagian 1)

Hidup adalah sekumpulan pilihan, begitu kata Patch Adams dalam bukunya Gesundheit! Bringing Good Health to You. “Dan kita,” lanjut beliau, ”adalah ekspresi dari pilihan jangka pendek dan jangka panjang yang kita buat.”

Sabtu, 07 April 2012

Sakit Itu Mahal

Dua nikmat yang sering manusia lupakan adalah kesehatan dan waktu luang. Kadang kita harus lebih dulu terbaring lemah untuk bisa paham bahwa sehat itu luar biasa. Kadang kita harus lebih dulu beraktivitas banyak sampai istirahat pun tak sempat untuk mengerti bahwa waktu tak boleh kita buang sia-sia.

Rabu, 29 Februari 2012

(Bukan) Negeri Kemarin Sore

Aku tak henti berdecak ketika menapak di Brussel kali pertama. Di jantung kota ini berdiri kokoh kantor Uni Eropa yang berwibawa. Sebuah lambang kegagahan bangsa-bangsa Eropa. Arsitektur dasarnya mirip kuburan saudagar Tionghoa yang kaya raya. Tinggi, melengkung ke dalam, seperti tubuh yang ingin memeluk. Maksud desain itu bukan soal estetika semata. Lengkung yang merengkuh 27 bendera negara anggotanya di taman berlantai granit itu adalah rancangan untuk berlindung dari guncangan bom.

Kamis, 23 Februari 2012

Yang Manakah Kita?

Kita ini seperti sapu. Kok bisa? Iya. Sapu itu, ketika ia hanya berdiri sendiri, ia takkan bisa apa-apa. Ia tak mampu membersihkan kotoran. Tapi coba kita lihat, ketika bakal sapu itu sudah menjadi satu, sudah diikat sedemikian rupa, kotoran apa yang tak mampu dibersihkannya? Bahkan kalau (kepepetnya) butuh gebug maling, sapu akan sangat berguna. Hehe, iya kan? Sekarang coba kita bayangkan jika kita hanya sendirian. Apa yang bisa kita lakukan? Bukan tidak mungkin, tapi akan sangat berat. Sekali lagi, sangat berat.

Selasa, 27 Desember 2011

Teriakan Syifa

"Arung jeram itu apa sih, Bah?"

“Oh, itu berarti kita naik perahu karet, trus menyusuri sungai, Nak...” jawab suamiku.

“Aku pakai helm juga?” ia bertanya dengan polosnya. Melihat abahnya sedang memakai helm.

“Iya, Syifa. Coba pakai helmnya sendiri ya, Anak pintar…” kataku sambil tersenyum.

“Kayak abah waktu naik jembatan goyang dong, Mi?”

Sekarang giliran suamiku yang senyum-senyum. Kami memang beberapa kali mengajak anak-anak ke wahana high risk. Sekedar melihat abah dan uminya beraktivitas sebagai outbounders.